Perubahan iklim telah menjadi isu global yang tak bisa diabaikan. Dampaknya dirasakan di seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia — negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman hayati luar biasa. Dampak perubahan iklim terhadap keberlanjutan ekosistem di Indonesia kini menjadi perhatian utama karena perubahan suhu, pola cuaca ekstrem, dan kenaikan permukaan laut mulai mengancam keseimbangan alam serta kehidupan makhluk hidup di dalamnya.
Sebagai negara tropis dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia sangat bergantung pada stabilitas iklim untuk menjaga sektor pertanian, perikanan, hutan, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Sayangnya, meningkatnya suhu global, deforestasi, dan polusi karbon mempercepat kerusakan ekosistem yang menjadi penopang kehidupan manusia menurut https://dlhbangkabelitung.id/.
Apa Itu Perubahan Iklim dan Mengapa Terjadi?
Perubahan iklim adalah pergeseran jangka panjang pada suhu rata-rata dan pola cuaca di bumi. Fenomena ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer, seperti karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan dinitrogen oksida (N₂O).
Gas-gas ini menahan panas di atmosfer dan menciptakan efek rumah kaca alami. Namun, akibat aktivitas manusia — seperti pembakaran bahan bakar fosil, penebangan hutan, dan industrialisasi — jumlah gas rumah kaca meningkat drastis, menyebabkan suhu global naik lebih cepat dari yang seharusnya.
Badan Meteorologi Dunia (WMO) mencatat bahwa suhu rata-rata bumi kini telah meningkat lebih dari 1,1°C dibandingkan masa pra-industri. Kenaikan sekecil itu saja sudah cukup untuk memicu perubahan besar dalam sistem iklim global, termasuk di Indonesia.
Dampak Perubahan Iklim terhadap Ekosistem di Indonesia
Indonesia memiliki beragam ekosistem, mulai dari hutan tropis, mangrove, terumbu karang, hingga padang lamun. Sayangnya, hampir semua jenis ekosistem ini kini menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim. Berikut beberapa dampak yang paling nyata:
- Peningkatan Suhu dan Kerusakan Hutan Tropis
Hutan hujan tropis Indonesia adalah paru-paru dunia. Namun, peningkatan suhu global mempercepat proses kekeringan di beberapa wilayah. Akibatnya, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat, terutama di Sumatera dan Kalimantan.
Kebakaran hutan tidak hanya mengeluarkan emisi karbon besar, tapi juga menghancurkan habitat satwa liar seperti orangutan, harimau sumatra, dan gajah. Jika tidak segera ditangani, hilangnya hutan akan mempercepat krisis iklim dan mengganggu fungsi ekologis bumi.
- Kenaikan Permukaan Laut dan Hilangnya Ekosistem Pesisir
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Namun, kenaikan permukaan laut akibat mencairnya es di kutub menjadi ancaman besar bagi ekosistem pesisir seperti mangrove, terumbu karang, dan padang lamun.
Kenaikan air laut menyebabkan abrasi pantai, menenggelamkan lahan pesisir, dan merusak habitat ikan serta biota laut lainnya. Banyak masyarakat pesisir juga kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian akibat fenomena ini.
Kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Pekalongan bahkan mengalami penurunan tanah (land subsidence) yang memperparah dampak banjir rob setiap tahun.
- Pemutihan Terumbu Karang (Coral Bleaching)
Perubahan suhu laut yang meningkat drastis menyebabkan fenomena coral bleaching atau pemutihan karang. Ini terjadi ketika karang kehilangan zooxanthellae — alga yang hidup bersimbiosis dengan mereka — akibat stres termal.
Terumbu karang merupakan ekosistem penting yang menjadi rumah bagi ribuan spesies laut. Jika terumbu karang rusak, maka rantai makanan laut akan terganggu, dan sektor perikanan yang bergantung padanya ikut terdampak.
Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sekitar 30–50% terumbu karang di Indonesia mengalami degradasi akibat pemanasan laut dan aktivitas manusia.
- Perubahan Pola Curah Hujan dan Krisis Air
Perubahan iklim juga mengacaukan pola curah hujan di Indonesia. Beberapa daerah mengalami hujan ekstrem dan banjir, sementara wilayah lain menghadapi kekeringan berkepanjangan.
Kondisi ini berpengaruh langsung terhadap ketersediaan air bersih, pertanian, dan ketahanan pangan nasional. Misalnya, kekeringan di Nusa Tenggara menyebabkan gagal panen, sementara banjir di Kalimantan mengancam produksi pangan dan pemukiman warga.
- Ancaman bagi Keanekaragaman Hayati
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Namun, perubahan iklim membuat banyak spesies kehilangan habitatnya.
Contohnya, burung endemik Papua dan satwa liar di Kalimantan mulai kesulitan beradaptasi dengan suhu yang lebih panas dan perubahan vegetasi. Bahkan, beberapa spesies laut berpindah ke perairan yang lebih dalam untuk mencari suhu yang sesuai, menyebabkan perubahan pada pola ekosistem laut.
Dampak Sosial dan Ekonomi dari Perubahan Iklim
Selain merusak lingkungan, perubahan iklim juga memberikan efek domino terhadap sektor sosial dan ekonomi di Indonesia.
- Pertanian dan Ketahanan Pangan Terancam
Tanaman padi, jagung, dan kedelai sangat bergantung pada iklim yang stabil. Perubahan curah hujan dan peningkatan suhu dapat menurunkan produktivitas lahan pertanian, memicu krisis pangan, dan meningkatkan harga bahan pokok. - Sektor Perikanan Mengalami Penurunan Produksi
Rusaknya ekosistem laut seperti terumbu karang dan padang lamun menyebabkan berkurangnya populasi ikan. Nelayan pun harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan hasil tangkapan yang sama. - Meningkatnya Risiko Bencana Alam
Curah hujan ekstrem, badai, dan gelombang panas menjadi lebih sering terjadi. Bencana seperti banjir bandang, tanah longsor, dan kebakaran hutan menyebabkan kerugian ekonomi besar dan korban jiwa. - Migrasi dan Konflik Sosial
Naiknya permukaan laut memaksa masyarakat pesisir untuk berpindah ke wilayah lain, menciptakan fenomena migrasi iklim (climate migration). Kondisi ini berpotensi menimbulkan konflik sosial akibat perebutan lahan dan sumber daya.
Upaya Mitigasi dan Adaptasi di Indonesia
Untuk mengurangi dampak perubahan iklim terhadap ekosistem, Indonesia telah melakukan berbagai langkah strategis. Upaya ini terbagi menjadi dua pendekatan utama: mitigasi dan adaptasi.
- Mitigasi Perubahan Iklim
Mitigasi bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca agar suhu global tidak semakin meningkat. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:
- Rehabilitasi Hutan dan Penanaman Pohon
Program seperti Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) bertujuan memulihkan kawasan kritis dan meningkatkan serapan karbon. - Penggunaan Energi Terbarukan
Pemerintah mulai mendorong penggunaan energi ramah lingkungan seperti tenaga surya, air, dan angin untuk menggantikan bahan bakar fosil. - Pengelolaan Sampah dan Limbah Berkelanjutan
Penerapan ekonomi sirkular dan pengurangan sampah plastik menjadi bagian penting dalam menekan emisi karbon dari sektor limbah.
- Adaptasi terhadap Dampak Iklim
Adaptasi adalah langkah menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim yang sudah terjadi agar dampaknya bisa diminimalkan. Contohnya:
- Pembangunan Tanggul dan Rehabilitasi Mangrove di wilayah pesisir untuk menahan abrasi dan kenaikan air laut.
- Pengembangan varietas tanaman tahan kekeringan agar produksi pangan tetap stabil.
- Sistem peringatan dini bencana untuk meminimalkan korban jiwa saat terjadi cuaca ekstrem.
- Edukasi masyarakat tentang pentingnya konservasi dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Peran Masyarakat dalam Menjaga Keberlanjutan Ekosistem
Upaya pemerintah tidak akan berhasil tanpa dukungan masyarakat. Setiap individu dapat berkontribusi dalam menghadapi perubahan iklim dengan cara:
- Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
- Menghemat energi dan air dalam kehidupan sehari-hari.
- Menanam pohon dan menjaga ruang terbuka hijau.
- Mendukung produk dan bisnis yang berorientasi ramah lingkungan.
- Mengedukasi orang lain tentang pentingnya pelestarian lingkungan.
Kesadaran dan tindakan kolektif dari masyarakat menjadi kunci utama menjaga ekosistem tetap berkelanjutan di tengah ancaman perubahan iklim.
Kesimpulan
Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan — ia sedang terjadi saat ini dan dampaknya sudah terasa nyata di berbagai ekosistem Indonesia. Dari hutan tropis hingga lautan, dari desa pesisir hingga kota besar, seluruh aspek kehidupan manusia bergantung pada bagaimana kita merespons krisis ini.
Menjaga keberlanjutan ekosistem di Indonesia berarti melindungi kehidupan seluruh makhluk di dalamnya, termasuk manusia sendiri. Melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha, serta penerapan gaya hidup ramah lingkungan, kita masih memiliki kesempatan untuk memperlambat laju perubahan iklim dan menyelamatkan bumi untuk generasi mendatang.
Karena pada akhirnya, bumi bukanlah warisan dari nenek moyang, melainkan titipan untuk anak cucu kita.
Sumber : https://dlhbangkabelitung.id/

